Kamis, 28 Mei 2015

Kompromi



Siang tadi, seperti biasa, sambil menunggu waktu pulang saya ngobrol-ngobrol dulu di UGD bersama teman-teman. Awalnya kami membicarakan tentang rencana mudik untuk lebaran tahun ini. Ngobrol ngalor ngidul tentang bagaimana kami (perempuan semua) harus sering (kalau bukan selalu) mengalah untuk mendahulukan pulang ke mertua dari pulang ke orang tua sendiri. Dalam obrolan ini tersebutlah satu kata: kompromi. Bahwa pada akhirnya seorang wanita ketika dia sudah menikah maka dia harus banyak-banyak kompromi dengan suami.

Mendengar kata kompromi saya jadi penasaran apa arti kata kompromi sebenarnya. Kalau dalam konteks pembicaraan kami di atas kompromi means mengalah daripada ribut. Ternyata setelah buka KBBI, kompromi adalah bersetuju dengan jalan damai. Hmm.. lumayan mirip sih. Hanya saja bersetuju itu seharusnya kedua belah pihak ya.

Kalau dipikir-pikir, setelah menikah, saya memang lebih sering ke tempat mertua ketimbang tempat orang tua sendiri. Contributing factornya banyak sih. Mertua saya di rumah semua, orang tua saya masih bekerja - bahkan lumayan sering ke luar kota sehingga kalau mau mengunjungi mereka harus memastikan dulu jadwal saya cocok dengan jadwal mereka -, mertua saya tinggal dekat Jakarta, yang mana suami sering sekali dinas ke Jakarta, sementara orang tua saya tinggal di kota kecil di Jawa Tengah yang jalur transportasinya lebih panjang. Saya baru sekali saja mengunjungi orang tua saya, pas momen lebaran.

Kadang, eh selalunya, saya iri kepada suami saya yang bisa sering mengunjungi orang tuanya. Karena beliau sering dinas ke Jakarta. Sementara saya, harus berpikir banget kalau mau izin mengunjungi orang tua, bahkan ketika saya masih full time di rumah. Saya tahu sih kalau yang berhak atas istri adalah suaminya, yang berhak atas suami adalah ibunya (and this is why I really want to have boys karena saya ga suka kesepian hehe). Akhirnya cuma bisa ngampet kangen sambil berdoa semoga ada rezeki ketemu lagi.

Sedih rasanya melihat orang tua saya di rumah, ditinggal anak-anaknya di luar kota semua. Apalagi bapak ibu saya anaknya kebanyakan perempuan yang setelah menikah diboyong bojo masing-masing. Walaupun alhamdulillah, bapak ibu enjoy-enjoy santai-santai saja karena sudah terbiasa rumahnya sepi sejak anak-anaknya mulai kuliah hehehe.

Kembali ke kompromi dengan pengertian bersetuju tadi. Pada saat bapak mengucap ijab dan suami melafazkan qabul, pada saat itulah kompromi mulai terjadi. Sejak detik itu, segala apa yang mendatangkan ridho suami, setidak suka-sukanya istri, harus didekati. Termasuk di dalamnya adalah mengalah baik untuk hal kecil maupun besar. Hal kecil misalnya ngalah bangun lebih pagi, lebih sering nonton acara kesukaan suami pas lagi bareng-bareng nonton tv. Hal besar, ngalah resign dari kerjaan yang prestigius dan high paid, rela memundurkan atau menghapus banyak rencana hidup, deelel.

Dilihat-lihat kok rasanya posisi istri gak enak banget yaa.. Ngalaah terus sama suami. Sampai rasanya semua hak istri sebagai individu jadi hilang. Well, kalau saya bilang sih tergantung cara pandangnya. Kalau mau ngikutin nafsu rasanya masih ingin mengejar ini itu bahkan dengan konseskuensi harus meninggalkan suami sekalipun. Kalau orientasinya akhirat ya itu tadi, apa-apa yang mendatangkan ridho suami harus didekati, sekalipun kita sangat tidak menyukainya. Saya belum bisa sih sampai tahap ini. Saya masih suka "berontak" dan protes-protes ngambek sama suami manakala keinginan saya tidak tercapai. Hehe. Yah namanya juga masih belajar jadi istri (yang baik). Dan pada akhirnya untuk kompromi pun harus belajar. Bukan hanya istri yang harus kompromi, suami pun wajib demikian.


Rumah No. 28, menjelang maghrib

Senin, 19 Januari 2015

Untuk yang Sedang Bersedih




Ada kalanya kita sangat bersedih ketika tidak bisa mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan. Menangis sampai mata bengkak. Tidak bisa tidur (atau jadi molor terus). Malas makan sampai kurus (atau jadi makan banyak banget padahal udah gendut heuheu). Tidak berminat mengerjakan tugas-tugas rutin (atau jadi ruajin banget ga kenal waktu, alhamdulillah, biasanya ga pernah selesai). Dan sebagainya - dan sebagainya. Tidak apa-apa kalau hal demikian terjadi. Asalkan tidak sampai berhari-hari sampai mengganggu kualitas hidup.

Bagi saya, kesedihan itu sesungguhnya bermanfaat. Karena segala sesuatu yang Allah ciptakan itu pasti bermanfaat. Kesedihan kan Allah juga yang buat. Sebab, saat seseorang bersedih bisa jadi itu adalah cara Allah mengampuni dosa-dosanya. Dengan merasakan kesedihan, Allah bukakan hatinya agar menjadi lebih lembut dan lebih berempati kepada orang lain yang  mengalami kesedihan yang sama. Dengan bersedih, Allah sadarkan diri untuk lebih bersyukur, untuk lebih melek terhadap nikmat yang tak terhitung di depan mata. Melalui sedih, Allah ilhamkan pada memori  untuk mengingat masa sedih ini kelak ketika datang masa bahagia agar tidak berlebihan dalam mengumbar rasa bahagia itu.

Allah tidak menurunkan suatu kesedihan tetapi pasti ada sebabnya. Sebelum menghujat, mempertanyakan, "kenapa begini ya Allah? kenapa tidak juga dikabulkan doaku? sampai kapan aku harus menunggu? mengapa semua ini terasa begitu berat?", sebaiknya kita beristgihfar banyak-banyak. Kalau sudah terlanjur muncul pertanyaan itu di hati gimana? Istighfar lebih banyak lagi. Mungkin kita kebanyakan dosa. Kebanyakan maksiat. Atau bagi yang merasa dosanya sedikit, itu semata-mata adalah ujian dari Allah. Karena tidak akan dibiarkan seseorang beriman tetapi Allah pasti akan mengujinya.

Dan yakinlah, bahwa segala apa yang kita jalani di dunia semua sudah tertakdir. Termasuk rasa sedih ini. Tidak ada yang bisa dikatakan kepada orang yang bersedih karena doanya belum diijabah melainkan, Allah bersama orang-orang yang sabar. Segala yang telah tertakdir untuk kita tidak akan ada yang mampu mengalihkannya, pun begitu dengan yang tidak tertakdir untuk kita, sekeras apapun berusaha jika Allah tidak takdirkan itu untuk kita, sampai kiamat juga ga bakal kesampean. Jadi, sabar saja. Sabar, sabar, sabar, Bersabarlah dalam kesedihan ini, sebentar saja, sabar... Insya Allah rezeki kita sudah dekat (ceritanya bersedihnya karena beluman dapet rezeki). Aamin.



Rumah No. 28, sebuah catatan untuk diri sendiri yang sedang bersedih hiks hiks


Minggu, 20 Juli 2014

My Wish 1

Hore horee nulis lagi di blog ini. Hmm, kenapa sih postingan saya selalu diawali dengan hal-hal beginian. Saya memang orang yang tidak rajin dalam hal tulis menulis padahal ya di dalam hati saya tidak pernah putus (kecuali pas lagi tidur) merangkai kata membuat cerita. Tapi pas mau nulis rasanya semua kata itu hilang. Hehe.

Sudah 7 bulan berselang sejak postingan terakhir. Waaa, time flies soooo fast. Postingan terakhir saya tulis 46 hari sebelum menikah, sekarang saya sedang menuju 6th month anniversary tanggal 7 Agustus besok (ihiii..ihiii). Buanyaaakk sekali hal yang berubah. Dulu ada seorang teman yang mengingatkan bahwa bagi perempuan, pernikahan adalah sesuatu yang bisa mengubah rencana hidupnya 180 derajat. Kalau para laki-laki mungkin bisa mengintegrasikan rencana hidupnya yang sudah ada sebelumnya dengan pernikahannya dengan mudah. Tapi kalau perempuan, hehe, menikah adalah kesempatan untuk belajar ikhlas. Ikhlas kalau-kalau segala mimpinya "harus" ditinggalkan. Heuheu.

Beberapa hari yang lalu saya dan suami mendatangi sebuah bank untuk membuka tabungan haji. Btw, buka tabungan haji tahun 2014 ini masa antrinya 19 tahun. Itupun baru diantrikan kalau saldo sudah mencapai 25 juta. Huhu. Ah tapi berangkat ke Baitullah mah bukan masalah duit, saya meyakini bahwa itu murni rizki dan rahmat Allah. Kita yang penting mengusahakannya tanpa perlu merisaukan antrian-antrian itu sambil tidak putus berdoa semoga Allah berkenan mengundang kita ke Baitullah. Aamin.

Nah balik lagi ke tabungan haji. Pada saat mengisi formulir nasabah baru kan ada informasi tentang pekerjaan ya. Saya karena kebiasaan mengisi bagian pekerjaan dengan "Lainnya, DOKTER". Iya pakai kapital karena perintahnya suruh ngisi pakai huruf balok. Sumber dana rekening juga saya pilih "tabungan pribadi/ gaji" karena saya memang punya tabungan pribadi dari gaji saya walaupun nanti yang mungkin berperan aktif menghidupkan rekening itu adalah suami sih. Hehe. Tetapi isian selanjutnya membuat bibir saya agak merengut sedikit, yaitu alamat pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran per bulan. Huks aku kan sudah 2 bulan joblesssss, jadi gak bisa ngisi bagian itu. Hiks. Jadilah kata "dokter" yang sudah saya pilih saya coret lalu saya ganti pilih "Ibu Rumah Tangga" dan karenanya saya kemudian harus mengisi surat keterangan tentang detil sumber dana yang akan membiayai saya yaitu suami  ganteng saya tercinta.

Entah kenapa kenyataan bahwa saya sekarang adalah IRT terasa sedikit menyedihkan. Saya merenungi hal ini selama bermenit-menit di kamar mandi *pentingbanget*. Mungkin saya termakan pendapat orang kebanyakan, "udah sekolah tinggi-tinggi akhirnya di rumah aja". Hehe. Memang rasanya "njeglek" banget sih. Saya yang biasanya di rumah cuma untuk tidur dan istirahat setelah aktivitas di luar rumah sekarang jadi penunggu rumah. Sering kali saya kangen rasanya pulang kerja malam dengan segala capeknya kemudian mandi dan tertidur. Sekarang saya seringkali bertemu dengan pertanyaan "hari ini ngapain ya? bosen tidur2an terus". Apalagi kalau ditinggal suami kerja huhu cuma guling-guling di rumah karena sendirian dan tinggal di kota yang "hmmm.. ini di mana sih?". Apalagi saya orangnya gak kreatif. Hehe. Dulu tiap bulan dapat gaji bisa menggunakan uangnya seenak perut haha. Sekarang harus berpikir jauh ke depan demi keluarga.

Tapi yah kembali lagi seperti yang sudah saya tuliskan tadi. Pernikahan itu masanya belajar ikhlas yang lebih keras lagi. Tidak semua keinginan kita bisa terwujud karena belum tentu itu yang terbaik di mata Allah. Segala perasaan denial ini yah dinikmati saja lah. Semua ada masanya. Yang penting ya itu tadi tetap mencoba ikhlas menjalani semuanya. Aaa.. ini kenapa temanya dari buka rekening haji nyambung-nyambung ke beginian sih. -_-"

Ya sudahlah. So, my wish now is getting job in the nearest time. Walaupun saya jobless juga karena belum masukin lamaran kemanapun sih. Wakakaka. Ups. Segera kalau begitu. Mohon doanya ya :)




Kamar Rumah No. 28, 20 Ramadhan 1435 H
Suami rajin banget di halaman belakang nanam jeruk nipis pesenan saya sementara saya ngadem di kamar. Kikiki. 


Selasa, 24 Desember 2013

One Day Three Autumns



46 days to go...

O Allah! There is nothing easy except what You make easy, and You make the difficult easy if it be Your Will "

Senin, 11 November 2013

Menikmati Perjalanan

Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by God’s decree. If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee – Umar bin al Khattab



source: dokumen pribadi


Pagi hari saya diawali dengan sebuah berita mengejutkan. Berita tentang seseorang yang akan menikah dalam waktu dekat. Saya terkejut karena tidak menyangka bahwa beliau akan menikah dalam waktu sedekat ini. Memang sih, tingkah lakunya terdeteksi galau belakangan. Tapi bener-bener gak nyangka kalau galaunya beneran mengindikasikan pernikahan dalam waktu dekat. Perasaan saya terhadap kabar ini campur aduk. Pertama kali baca saya ketawa kaget, surprised, dan rada-rada sedih. Sedih karena ternyata beliau yang lebih dulu menikah dari saya, padahal tadinya saya yakin bakalan saya dulu yang nikah. Hehehe. Yang pasti bakal banyak yang patah hati dengar kabar ini. Wakakaka. Selamat yaaah. Barakallahulakuma wa baraka’alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair. Turut berbahagia :)

Berangkat dari kabar ini saya lantas berpikir. Sungguh jalan hidup ini benar-benar kita tidak mengerti kemana akan mengarah. Banyak banget kejadian, apa yang kita kira akan terjadi di masa depan ternyata berbelok ke arah yang bisa sama sekali antah berantah dan asing dalam hidup kita. Tempo lalu seseorang bercerita kepada saya rencananya membatalkan pertunangan setelah sekian lama menjalani hubungan. Suatu skenario yang saya tidak sangka akan terjadi pada seseorang itu. Sama seperti pernikahan dalam waktu dekat seseorang di awal tulisan ini.

Dalam hati diam-diam saya dengan cemas sering sekali menanyakan akan kemana Allah mengarahkan hidup saya. Apakah akan berakhir dengan baik atau sebaliknya. Apakah akan berjalan mulus atau akan ada beberapa kali tersesat. Saya sering juga merencanakan A, B, C untuk hidup saya namun yang terjadi justru R, O, X. Sesuatu yang benar-benar random dan tidak terduga. Sebagian lebih baik, sebagian saya lambat sekali mengambil hikmahnya. 

Saya yakin bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi kalau Allah mengizinkan. Mengutip nasihat ust. Sathori dalam sebuah kajian bulan lalu, apapun yang ada dan terjadi di dalam hidup telah diatur dan direncanakan Allah secara tepat. Apapun yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita pastilah akan membawa kebaikan bagi kita. Bahkan sekalipun yang terjadi itu adalah sebuah kesalahan. Tetap ada kebaikan di baliknya. Dan Allah telah meletakkan ilmu-Nya, pemahaman bahwa hal baik buruk yang terjadi dalam hidup pasti membawa kebaikan, dalam hati kita. Masalahnya tinggal kita bisa tidak menggunakan ilmu itu kalau pas ada kejadian sehingga kita terhindar dari tidak bisa sabar dan bersyukur. Ilmu Allah ini mengajarkan kepada kita bahwa yang bisa kita lakukan dalam hidup ini cuma 3: taat, menerima, dan menjalani apapun ketetapan Allah terhadap diri kita.

Terhadap apaaapun yang terjadi, yang ditetapkan Allah, setelah ikhtiar optimal kita tentunya, kita harus taat, menerima, dan menjalaninya. Kita harus taat bahwa Allah yang memiliki kekuasaan mutlak menentukan jalan kehidupan. Kita harus menerimanya sehingga tidak berlalu suatu waktu, tidak berpindah kita dari satu keadaan ke keadaan lain tanpa melakukan kebaikan. Sehingga kita bisa menjalaninya dengan ikhlas dan penuh kesyukuran.


Manusia tuh emang makhluk lemah. Tidak punya kekuasaan apa-apa. Bahkan tidak punya pengetahuan tentang apa yang terbaik untuk hidup yang dia jalani sendiri. Makanya harus banyak-banyak berdoa mohon petunjuk supaya kita bisa paham dan dimampukan untuk mengamalkan ilmu Allah yang sudah ditanam di hati kita itu tadi. Supaya kita bisa lebih menikmati perjalanan hidup yang ujungnya bisa tidak terduga ini. Hihihi. Enjoy our life! ;)


#late post pake wifi kantor gara2 modem pecah sama tangan sendiri T,T